Jumat, 22 April 2011

Sang Bidadari

ini adalah kisah nyata seorang siswi sd yang ingin menjadi dokter anak

Ia adalah siswi sd kelas 6 yang akan mengikuti ujian kelulusan,tetapi kini ia telah mengepakan sayap indahnya jauh tinggi menembus awan ,langit dan angkasa.
Berawal ketika ia mulai merasakan sakit dikepalanya yang tak dapat ia tahan, ia pun akan muntah dan terjatuh ke lantai, keringatnya pun bercucuran dan ia pun mulai menangis tak dapat menahan sakit yang begitu hebat dikepalanya.

Setiap hari selalu terulang, rasa sakit yang mendera tak kunjung berakhir. Ia harus pulang sebelum jam pelajaran selesai.

Orangtuanya telah membawa ke beberapa rumah sakit ternama di Jakarta, dan kesimpulan yang mengejutkan adalah tumor otak, dan harus segera di operasi.

Entahlah, mungkin karena kata "operasi" sangat mengerikan, mengingat otak yang harus dioperasi, akhirnya orangtua siswi tersebut membawa ke tempat alternatif di sukabumi.

Orangtua siswi tersebut meminta dispensasi untuk memulihkan kesehatan siswi tersebut ,sehari, seminggu , sebulan, telah lewat. Para guru dan teman-temannya mulai merindukan keceriaan siswi tersebut, senyummya , tawa candanya, keceriaannya, ide-ide lucunya.

Bulan ke dua, teman-teman sekelas dan perwakilan guru mengiriminya "surat sayang buat temanku" dan beberapa souvenir mungil , dengan harapan ia akan tetap semangat dan segera kembali sekolah. Tetapi ia tetap belum bisa datang kesekolah.

Dalam "surat sayang" tersebut, gurunya berjanji akan mengajarkan permainan baru jika siswi tersebut telah kembali sehat dan kembali berkumpul belajar bersama.

Jelang tiga bulan, kondisi kesehatan siswi tersebut mulai membaik namun penglihatannya mengalami kemunduran , ia tak dapat melihat dengan jelas. Ia pun tak kuat untuk duduk berlama lama.

Pihak sekolah dan beberapa pihak berusaha menggalang bantuan untuk siswi tersebut untuk meringankan beban orangtuanya.

Namun malam itu, aku mendapat kabar yang membuatku terdiam tak dapat berkata apa-apa, lama ku terdiam dan melayang ingatanku kepada siswi tersebut, aku tak dapat menjabarkan perasaanku saat itu, hanya terdiam menatap kosong. Sebuah kabar "Ia telah pulang ke Rahmatullah". Innalillahi wainaillaihi rajiun.........

Ketika ku datang pagi itu , melihatnya berbaring tersenyum , terpejam matanya. Ingin ku bangunkan dia , "Bangun, ayo kamu bohong ya?" itulah yang ingin ku katakan padanya.

Tapi kulihat sekelilingku , teman - temannya, gurunya,orangtuanya , kerabat , menagis, menatapmu dan memanggil namamu. Ku tatap kembali wajahmu yang begitu damai, tersenyum, ku tak dapat menahan airmataku saat ku mencium pipimu yang dingin, ku berbisik, "ini ibu datang nak........., maaf ibu tak menjengukmu........, ibu menyesal......,ibu menyesal........., ini ibu datang nak........, bangun nak......."

Ku baru menyadari kau telah pergi saat kau dimandikan , air yang dingin itu menyentuh kulitmu, kau terdiam, dingin . Namun sekelebat ku melihat senyum manismu saat ku usap pipimu.

Tak dapat ku tahan air mataku dan penyesalanku .
Hingga kini aku tak memperkenalkan permainan baru itu kepada teman-temanmu, karena ku telah berjanji akan mengajarkan permainan itu hanya jika kau kembali sehat dan kembali bersekolah.

Slamat jalan Maswa, kepakanlah sayap indahmu bidadari , hiasain taman firdaus dengan senyummu yang cantik.

Ibu sayang kamu