Minggu, 13 Juni 2010

tantangan atau beban

TANTANGAN ATAU BEBAN

Kisah ini ditulis berdasarkan kisah nyata untuk memberikan ispirasi kepada para pelajar dimanapun berada

Suatu hari, sepulang sekolah seorang siswi kelas 6 salah satu sekolah dasar negeri di Jakarta melaporkan kepada ibunya bahwa sang anak tersebut ditugaskan untuk menjadi komandan upacara hari senin depan , dan sang anak tersebut sadar bahwa dia belakangan ini sering merasa pusing – pusing dan hampir pingsan jika tersengat matahari , hal tersebut disebabkan oleh karena kurangnya asupan nutrisi dan zat besi ke dalam tubuh sang anak tersebut , bukan karena orang tuanya kurang mampu untuk menyediakan makanan yang bergizi tetapi begitulah kebiasaan siswi – siswi sekolah yang baru tumbuh besar biasaya mengurangi sendiri porsi makan mereka agar terlihat tetap langsing dan tidak kegemuka , padahal pada usia – usia tersebut sedang membutuhkan banyak asupan makanan bergizi dan bernutrisi untuk membangun sel – sel tubuh dan sel – sel jaringan otak.

Mendengar laporan sang anak tersebut , sang ibu hanya tersenyum dan langsung bertanya , “ Apakah tugas tersebut adalah BEBAN atau TANTANGAN untuk kamu , jika kamu anggap tugas tersebut adalah BEBAN , maka kamu harus katakan kepada guru kamu bahwa kamu tidak sanggup untuk menjalankan tugas tersebut , tapi jika kamu anggap tugas tersebut adalah tantangan , maka kamu harus ikuti aturan main ibu “

Sang anak dengan cepat menjawab bahwa tugas tersebut adalah tantangan dan ia sangat ingin sekali melaksanakan tugas sebagai komandan upacara senin depan.

Aturan main yang ditetapkann oleh sang ibu adalah pertama bahwa sang anak harus sarapan setiap pagi dengan menu nasi secukupnya berserta lauk pauk , segelas teh manis dan satu tablet penambah darah dan senin depan menu tersebut harus ditambah dengan satu buah telur ceplok.

Aturan main yang ke dua bahwa sang anak diminta untuk tidak mengkonsumsi coklat dan es selama seminggu , mengingat sang anak saat itu sedang batuk dan dikhawatirkan batuk tersebut masih berlanjut saat ia menjadi komandan upacara senin depan , bisa terbayang bagaimana seorang komandan memimpin barisan upacara dengan terbatuk – batuk.

Awalnya mendengar kata – kata “telur ceplok” , sang anak terkejut, karena menu tersebut adalah menu yang sangat dihindari selama ini karena alasan rasanya yang membuat mual , namun akhirnya sang anak menerima dengan pasti menu aturan main yang ditetapkan sang ibu setelah sang ibu mengingatkan kembali manfaat sebutir telur untuk tubuh.

Dan akhirnya sang anak dengan ikhlas dan tekad bulat menjalankan aturan main tersebut . Dan baru beberapa hari menjalankan aturan main sang ibu , sang anak telah merasakan manfaat dari menu sarapan barunya tersebut . Ia tidak merasa pusing – pusing lagi saat pulang dari sekolah atau saat ia sedang beraktivitas.

Dan saat upacara senin yang ditunggu – tunggu pun tiba juga . Pagi – pagi sekali sang anak sudah bersiap – siap dan dengan lahap ia menghabiskan menu sarapan pagi itu ditambah dengan sebuah telur ceplok .

Sang anak lalu berpamitan kepada orang tuanya untuk berangkat sekolah , baru beberapa langkah sang anak berangkat , ibunya memanggilnya dengan lantang, “Komandan” , sang anak membalikkan badannya ke arah ibunya , sang anak tersenyum melihat ibunya dalam posisi tegap dengan tangan dalam posisi memberi hormat layaknya sedang menghormati seorang komandan , sang anak pun berangkat sekolah dengan langkah pasti dan senyuman tersungging dipipinya.

Saat upacara pun tiba , sang anak sudah berdiri pada posisi baris petugas upacara. Dan ketika upacara dimulai, dengan langkah pasti dan tegap ia melangkah memasuki lapangan upacara , begitu pun saat ia memberi aba - aba kepada para peserta upacara , suaranya begitu lantang dan bulat . Terlihat jelas wajah kepala sekolah dan para guru terkejut melihat penampilan komandan upacara yang satu ini , karena sebelumnya siswi tersebut dianggap selalu membuat gaduh di kelas , dan terlihat jelas wajah mereka kagum dan baru kali ini ada komandan putri di sekolah dasar negeri tersebut . Dan sang ibu pun yang memang adalah salah satu tenaga pendidik di sekolah tersebut sengaja berdiri pada barisan paling belakang , terpaku melihat performa sang anak yang begitu maksimal.

Syukurlah tidak ada cacat sedikit pun dalam upacara tersebut hingga upacara berakhir , begitu sempurna . Dan ketika barisan upacara dibubarkan oleh sang komandan putri tersebut, sang ibu tetap pada posisi berdiri di tempat , sang anak melihat di sana berdiri tegak ibunya yang sedang memberi hormat padanya, sang anak pun membalas memberi tanda hormat kepada sang ibu sambil tersenyum .

Ternyata Ia mampu menjalankan tugas tersebut dengan baik.

Pembaca yang budiman, hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari kisah nyata diatas adalah dengan tekad yang kuat, kemauan dan niat yang ikhlas seseorang dapat melaksanakan setiap rencana yang dibuatnya walaupun rencana tersebut dibuat oleh anak kecil sekalipun, dan tentu saja tidak lepas dari kehendak Allah SWT.

Redplum08